Jumat, 02 Desember 2011

Lebah

         Lebah adalah binatang kecil yang terukir indah dalam Alquran. Allah mengabadikan namanya pada salah satu surah dalam Alquran, yakni Annahl. Tentu, ada keistimewaan yang dimiliki hewan ini hingga namanya termaktub dalam kitab yang suci dan mulia. Lihat surah Annahl [16] ayat 68-69.
         Lebah diciptakan Allah SWT dengan banyak memberi manfaat bagi manusia. Di antara manfaatnya adalah madu. Tak hanya itu, perilaku hewan kecil ini harusnya menjadi cerminan akhlak bagi Muslim sejati.
Perhatikanlah kehidupannya. Ada banyak manfaat yang bisa diambil hikmahnya dari lebah. Pertama, lebah hanya menghisap saripati bunga. Ia hanya mengambil yang inti dan membiarkan yang lain. Lebah tahu, yang menjadi kebutuhannya hanyalah saripati, bukan yang lainnya. Ini mengajarkan bahwa setiap Muslim harus mengambil sesuatu yang baik dan halal. Sebab, mengambil hak yang lain hukumnya adalah haram.
        Kedua, lebah menghasilkan madu. Ia memberi manfaat bagi manusia. Ini pelajaran bagi umat Islam. Madu berasal dari saripati bunga dan baik, maka keluarnya pun baik. Sesuatu yang halal, keluarnya halal pula. Dan, ia banyak memberi manfaat bagi orang lain.
       Ketiga, lebah tidak merusak. Di mana pun dia hinggap, tak ada tangkai daun ataupun ranting pohon yang patah. Betapa santunnya hewan kecil ini hingga dalam bergaul dia tidak menyakiti siapa pun dan senantiasa menjaga kedamaian dalam setiap suasana. Lebah senantiasa memegang prinsip iffah (ketenteraman) dalam pergaulan.
      Keempat, lebah punya harga diri. Ia tidak akan pernah mengganggu orang lain selama kehormatan dan harga dirinya dihormati. Namun, bila harga dirinya dizalimi, ia akan siap ‘menyengat’ pengganggunya. Karena itu, setiap Muslim harus mampu menjaga kehormatan dirinya.
      Sudah sepatutnya kita belajar ilmu dari lebah. Bukan karena fisik dan pesonanya yang kurang menarik, tapi karena komitmennya dalam bersikap dan berbuat. Manusia memiliki kemuliaan dari makhluk lain. Namun, tingkah laku dan kehormatan manusia bisa lebih hina dari binatang.
Allah memberikan pelajaran bagi manusia untuk mengambil hikmah dari lebah. Ia makhluk kecil yang memberikan manfaat sangat besar bagi manusia. Tentunya, tak hanya dari lebah, setiap hamparan yang ada di alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT untuk kebutuhan manusia. Maka, bisakah kita mengambil pelajaran? Wallahu A’lam.

sumber : http://asmakulo.blogspot.com/2010/09/lima-pelajaran-hidup-dari-sang-lebah.html

Rabu, 30 November 2011

Jadilah seperti semut, yang meskipun lemah, tetapi bisa berpikir dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang akan datang.


Suatu siang di musim gugur, seekor semut kecil membawa sesobek daun kecil menuju sarangnya. Dalam keadaan yang semakin hari bertambah dingin, ia mengikuti keluarganya bekerja mengumpulkan makanan yang bisa mereka temui kedalam sarang mereka. Di tengah jalan, semut kecil dan beberapa temannya bertemu dengan serangga lain yang menyapa mereka. Serangga itu bertanya kepada semut kecil itu mengapa tidak memakai waktu untuk bermain saja daripada bekerja. Semut kecil itu dengan santai menjawab, “Sebentar lagi salju akan turun dan makanan akan sulit didapat. Lebih baik aku mengumpulkan makanan dulu daripada jika musim dingin tiba aku akan kekurangan makan.” Serangga itu berkata, “Aku yakin tidak akan kekurangan makanan. Sekalipun musim dingin, aku bisa keluar mencari makan.” Seminggu berlalu. Si semut yang kecil dari dalam sarangnya memandang ke luar sarang dan melihat butiran-butiran salju berterbangan di luar. Udara semakin bertambah dingin. Ia melihat serangga yang lain, yang ia temui saat ia bekerja, masih menikmati dedaunan yang belum tertutup salju. Namun, beberapa minggu kemudian, ia terkejut melihat serangga yang ia temui itu didepan sarangnya kedinginan dan kelaparan. Segera saja ia membawa serangga itu masuk dan menghangatkannya. Serangga itu berterimakasih kepada semut kecil itu seraya berkata, “Aku tidak mengira salju akan turun dengan sangat lebat hingga semua pohon tertutup. Tahun lalu, aku masih bisa menemukan makanan. Beberapa hari ini aku terbang tak ada satupun makanan yang kutemui.” Semut kecil itu tersenyum dan menjawab,”Itulah pentingnya merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Terkadang apa yang kita temui tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Sebab itu, kita perlu mempersapkan diri mengahapi segala kemungkinan yang bisa terjadi.”

Semut, adalah hewan kecil yang lemah namun kita bisa menemukannya dalam Kitab Amsal yang ditulis oleh raja paling berhikmat sepanjang zaman, Raja Salomo. Dalam Amsal 30:25 dikatakan ”semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas.” Ada sebuah hikmat penting yang bisa kita pelajari dari ayat tersebut. Saat musim panas, semut bukan hanya senang-senang menikmatinya, tetapi saat musim panas mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi musim dingin yang akan datang.Semut adalah hewan yang selalu mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Apa yang dilakukan oleh semut itu memberikan hikmat bagi setiap kita. Jadilah seperti semut, yang meskipun lemah, tetapi bisa berpikir dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang akan datang. Segala sesuatu yang kita persiapkan dengan baik akan membuat kita melakukan dengan lebih baik dan menghasilkan yang lebih baik
 
Sumber :http://superkomplit.blogspot.com/2009/07/filsafat-semut.html